Dengan ringan
tangan Nabi Khidir memperbaiki tembok rumah tersebut, tanpa meminta upah dari penduduk
kampung. Nabi Musa terheran-heran melihat tindakannya. Nabi Khidir pun
beralasan, bahwa rumah tersebut milik dua anak yatim dan di
bawahnya terpendam harta peninggalan orang tua mereka yang
salih. Allah berkehendak menjaga harta tersebut hingga kedua anak tersebut
dewasa dan mengambil manfaat dari harta itu.
Para ahli tafsir
menyebutkan, bahwa di antara pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas adalah:
Allah akan menjaga keturunan seseorang manakala ia salih, walaupun ia telah meninggal
dunia sekalipun
Subhânallâh, begitulah dampak
positif kesalihan orang tua! Sekalipun telah meninggal dunia masih
tetap dirasakan oleh keturunannya. Bagaimana halnya ketika ia masih hidup??
Tentu lebih
besar dan lebih
besar lagi dampak positifnya.
Urgensi
Kesalihan Orang Tua dalam Mendidik Anak
Kita semua
mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak
yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk
mencapai citacita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan
ketakwaan kita selaku orang tua. Alangkah lucunya, manakala
kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang
dalam maksiat dan dosa!
Kesalihan jiwa
dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan
anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali
ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat
orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah,
niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun
juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah
mengatakan, “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”.
Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya
atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak
kecil, yang suka meniru!
Beberapa Contoh
Aplikasi Nyatanya
Manakala kita
menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya
dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan
anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton
televisi.
Jika Anda
berharap anak rajin membaca Alquran, ramaikanlah rumah dengan lantunan
ayat-ayat suci Alquran
yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan
hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau
suara
biduanita yang
mendayu-dayu!
Kalau Anda
menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil
apapun. Tanpa disadari,
ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya.
Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari,
anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi
perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita
menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong
dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke
depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”.
Tapi ternyata,
kita malah pulang malam!
Dalam contoh di
atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya. Terus
apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan
dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang,
bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut.
Tapi kalo bapak
ke kebun binatang, insya Allah kamu bisa ikut”.
Kita tak perlu
merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan
waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis.
Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus
selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan
melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus.
Perlahan anak akan memahami mengapa orang tuanya selalu pergi di pagi hari dan
bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut. Anda
ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!
Sebuah Renungan
Penutup
Tidak ada
salahnya kita putar ingatan kepada beberapa puluh tahun ke belakang, saat
sarana informasi dan telekomunikasi masih amat terbatas,
lalu kita bandingkan dengan zaman ini dandampaknya yang
luar biasa untuk para orang tua dan anak. Dulu, masih
banyak ibu-ibu yang rajin mengajari anaknya mengaji, namun sekarang mereka
telah sibuk dengan acara televisi. Dahulu ibu-ibu dengan
sabar bercerita tentang kisah para nabi, para sahabat hingga
teladan dari para ulama, sekarang mereka lebih nyaman untuk menghabiskan waktu ber-facebook-an
dan akrab dengan artis di televisi. Dulu bapak-bapak mengajari anaknya sejak
dini tatacara wudhu, shalat dan ibadah primer lainnya,
sekarang mereka sibuk mengikuti berita transfer pemain bola!
Bagaimana
kondisi anak-anak saat ini, dan apa yang akan terjadi di negeri kita lima puluh
tahun ke depan, jika
kondisi kita terus seperti ini?? Jika kita tidak
ingin menjumpai mimpi buruk kehancuran negeri ini, persiapkan generasi muda sejak
sekarang. Dan untuk merealisasikan itu, mulailah dengan memperbaiki diri kita
sendiri selaku orangtua! Sebab mendidik anak memerlukan kesalihan
orangtua. Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah baik
kita, amien…
Judul Buku :
Jurus Jitu Mendidik Anak
Penulis :
Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.
Jurus Jitu Mendidik Anak
Penulis :
Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.

